BANGKA – Masyarakat Desa Bintet, Kecamatan Belinyu menggelar ritual adat Titang Tue Doa Sekampung, Minggu (19/04/2026) pagi, di lapangan sepakbola Desa Bintet.
Acara itu berlangsung dengan sakral, dengan suasana hikmat. Disaksikan ratusan orang masyarakat setempat.
Titang Tue Doa Sekampung merupakan ritual adat dari masyarakat Desa Bintet, untuk berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa supaya terhindar dari mara bahaya.
Selain prosesi Titang Due Doa Sekampung, diiringi juga dengan ritual penyajidan Buk Idang, yakni hidangan makanan dari 5 Dusun yang ada di Desa Bintet. Lalu ditutup oleh ritual Ketupat Lepas, yang disebarkan ke 4 penjuru mata angin.
Selain ritual adat, acara juga diisi dengan penampilan dambus dari sanggar seni Cinta Kasih Dayung Serumpun serta pertunjukan silat dari padepokan Karang Lintang.
Sejumlah pejabat hadir dalam ritual itu seperti Bupati Bangka diwakili oleh Plt Asisten II Sarius, Kades Bintet Benny Kim, Camat Belinyu, Kapolsek Belinyu, anggota DPRD Kabupaten Bangka Ruslina, Ketua YPN Belinyu Hadijah, Lanal Babel serta Ketua Tim Densus 88 antiteror Mabes Polri IPDA Haryadi.
Ritual adat ini sudah menginjak tahun ke 3 pada tahun ini. Dan dilakukan dengan prosesi yang sama.
Namun pada tahun ini, para penggiat budaya lokal Titang Tue Doa Sekampung yang dipimpin oleh Abdul Hak, memberikan cindera mata kepada para tamu undangan.
Para pelajar dari Yayasan Pendidikan Nasional atau YPN Belinyu juga turut ikut andil dalam kegiatan itu. Mereka mendokumentasikan kegiatan itu melalui chanel YPN TV.
Kepala Desa Bintet Benny Kim mengatakan, dia berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan bisa menjadi atensi bagi pemerintah untuk menjadi agenda tahunan.
” Iya sudah tahun ke 3. Kami berharap ini menjadi perhatian pemerintah supaya menjadi agenda tahunan,” kata Benny.
Sementara itu, ketua pelaksana ritual adat Titang Tue Doa Sekampung yakni Abdul Hak berharap, kegiatan ini tidak punah dimakan perkembangan zaman.
Dia menjelaskan, tentang arti Titang Tue itu adalah prosesi berdoa untuk meminta segala tujuan yang baik kepada Yang Maha Kuasa.
” Titang tue itu adalah bacaan zaman dulu. Sehingga ada tingkatan kita untuk menyampaikan doa kita dan tujuan kita. Harapan kedepannya, adat budaya kita ini tidak hilang dimakan zaman,” ungkapnya.
Abdul Hak juga berharap, untuk kedepannya acara adat ini bisa menjadi perhatian pemerintah dan sejumlah pihak yang mendukung. Supaya terlaksana lebih meriah lagi. (Edho)










