Soal PT PMM, Warga Pribumi Kerap Dapat Perlakuan Diskriminatif

Bangka82 Dilihat
banner 468x60

BANGKA – PT Payung Mitrajaya Mandiri atau PMM adalah sebuah perusahaan atau pabrik produksi CPO atau minyak kelapa sawit yang ada di Kecamatan Bakam.

Pabrik itu ternyata mempunyai catatan hitam dikalangan masyarakat setempat. Salah satu contohnya adalah warga pribumi Desa Maras Senang kerap mendapatkan perlakuan Diskrimatif dari pihak perusahaan.

Diskriminatif adalah kata sifat yang menggambarkan tindakan, kebijakan, atau sikap yang membeda-bedakan, tidak adil, atau kurang menguntungkan terhadap individu atau kelompok tertentu.

Hal itu diutarakan oleh Kepala Desa Maras Senang M Yunus, saat diwawancara di kantor Desa Maras Senang, Rabu (06/05/2026).

Pabrik yang berdiri sejak 5 tahun belakang itu kata Yunus, memang kerap kali menuai pro dan kontra di masyarakat.

Bahkan sebelum pabrik itu beroperasi, pro dan kontra di masyarakat sudah terjadi.

” Kalau dikatakan pro dan kontra iya. Dari sebelum pabrik itu berdiri sudah ada pro kontra. Dan dari mulai kami sebelum jadi Kades. Berdirinya pabrik itu tahun 2021,” ungkap Yunus.

Diungkapkan Yunus, masyarakat pribumi Maras Senang juga kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pihak perusahaan.

” Sering kejadian misalkan, warga asli sini awalnya keterima kerja disitu. Dengan posisi yang layak dan bagus lah. Tahu-tahunya dipindahkan ke tukang bersih lapangan. Dan itu tanpa alasan yang jelas,” bebernya.

Padahal kata Yunus, warga Desa Maras Senang sendiri juga banyak dengan tamatan pendidikan setara SMA.

Dia juga menyebutkan, management perusahaan itu bisa dikatakan bobrok. Hal itu dia ungkapkan, berdasarkan aduan dari warganya.

” Kalau dulu masih iya lah manager dulu. Yang sekarang ini luar biasa sekali. Yang kerja diposisi layak misalkan produksi itu orang-orang mereka yang dari luar Bangka ini,” tuturnya tegas.

Yunus juga mengakui, pihak keluarga korban yakni Agus yang tewas akibat tersengat listrik di pabrik itu belum menerima atas kematian korban.

” Pihak korban juga masih belum menerima. Mereka merasa ada yang janggal atas kematian korban,” ujarnya.

Hingga kini, pihak perusahaan PT PMM pun belum bisa dihubungi. Lantaran minimnya akses untuk mendapatkan kontak dari pihak terkait dari perusahaan itu untuk menjawab hal ini.

Manager pabrik yakni Asa Marpaung pun hingga saat ini belum bisa didapatkan kontak yang bisa dihubungi. (Edho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *