BANGKA – Sungai rumpak, menjadi topik lantaran adanya kegiatan penambangan timah di perairan itu. Para nelayan yang menolak kegiatan itu juga sudah menggelar aksi sebelumnya.
Permasalahan yang terjadi beberapa waktu lalu adalah alur perahu para nelayan yang tertutup.oleh tambang itu. Sekarang ada lagi yakni, permasalahan mangrove.
Sejumlah nama disebutkan sebagai koordinator dan pengelola di pemberitaan sebelumnya, termasuk Ismail.
Ismail atau yang kerap disapa Agus itu saat dihubungi wartawan, Senin (14/10) pagi mengaku heran dengan dirinya yang selalu tersorot dalam kegiatan itu.
Pasalnya yang membuat dia heran, setahun belakang perairan itu ramai diakomodir puluhan kubu yang menambang di perairan sungai rumpak, batu hitam dan mengkubung.
” Kemarin masalah alur nelayan. Sekarang masalah bakau pula. Kemarin, tahun kemarin waktu ada 10 kubu dekat situ kerja, yang pos pam nya udah banyak kenapa nggak mau nolak,” kata Agus.
Agus membeberkan, tak jauh dari sungai rumpak juga ada kegiatan penambangan tepatnya di pulau Mengkubung. Dia mengaku lokasi yang dimaksud saat ini adalah lokasi bekas.
Dan untuk masalah adanya pengerusakan mangrove, dia mengaku tidak mengetahui itu. Lantaran kata dia, itu adalah cara penambang masing-masing dalam mencari timah.
” Kalau masalah ngerusak bakau, saya nggak tahu itu. Penambang lah yang kerja gimana. Saya juga jarang ke lokasi. Dan di perairan itu, coba lah ke Mengkubung sana, banyak ponton disana kerja. Itu kenapa nggak ditolak. Aneh kali,” tegasnya.
Agus membeberkan, sejak bekerja menambang bersama masyarakat dari mulai di Dusun Tanjung Batu, Sunur hingga Kelapa Hutan dia selalu ditolak oleh sekelompok orang yang menyatakan nelayan. Dan kata Agus, orangnya itu-itu saja.
Bahkan kata Agus, tak sedikit masyarakat Dusun Mengkubung dan sekitarnya ikut berkecimpung di penambangan itu.
” Sudah dari kami kerja di Tanjung Batu, Sunur, Kianak sampai lah Kelapa Hutan selalu ditolak. Sementara banyak kubu lainnya yang kerja selain saya. Beneran, saya nggak bohong. Saya tahu orang-orangnya. Saya bisa buktikan itu. Orang Mengkubung juga ada yang kerja di pam dan jaga malam juga,” jelasnya.
Masih kata Agus, notabane yang menambang timah juga adalah masyarakat. Bahkan kata dia, banyak yang bergantung dengan tambang. Maka dari itu, APH yang kerap turun ke lapangan pun terkesan cuma-cuma saja karena kerap adanya laporan.
” Yang kerja masyarakat juga, yang bergantung dengan tambang laut juga banyak. Kadang kasihan dan dak enak juga lihat kawan-kawan APH turun ke lapangan penertiban. Sementara orang mau makan,” ungkapnya.
Seorang penyanting sebut saja Yor, yang meminta namanya tidak disebutkan di media ini mengaku, hari ini dia baru saja mau pergi ke laut.
Wanita yang usianya hampir setengah abad itu sebelumnya merasa kegirangan lantaran TI rajuk di teluk kelabat bagian Mengkubung sudah dibuka.
” Weee, betuah memang (pepatah bahasa Bangka, yang bermakna sumpah serapah). Baru lah mau ke laut, nyanting. Tadi liat, ada berita TI rajuk di daerah sungai rumpak masuk koran,” ucapnya.
Dia yang memang sudah berpengalaman nyanting atau ngereman, sontak dan selalu berasumsi jika kegiatan penambangan itu sudah tersiarkan, maka akan dilakukan penertiban oleh aparat.
Apalagi ironisnya, dia yang mengaku sejak setengah tahun belakang ini, kondisi ekonomi yang dialaminya teramat sulit. Dan dia, selama tidak nyanting hanya bekerja sebagai penjual kue milik orang lain hingga menjadi sampingan sebagai asisten rumah tangga, sebagai tenaga pencuci piring dan baju.
Ditambah lagi, dia yang berperan sebagai single parent harus berjuang menghidupi dua buah hatinya yang sedang bersekolah.
” Sudah lah kalau kayak gini. Sudah pasti aparat datang dan nertibkan. Mana lah hampir 5 bulan saya enggak nyanting. Kemarin-kemarin waktu nggak ada ti rajuk. Ngelangkung (istilahnya kuli serabutan) bantu jual kue. Nyuci, nyetrika di rumah orang. Anak mau sekolah Pak, saya nih janda. Umur sudah dekat 50 tahun,” ucapnya lirih.
Permasalahan penambangan di sungai rumpak teluk kelabat dalam memang kerap menuai pro kontra. Satu sisi nelayan yang bergantung hidup di laut. Dan satu sisi juga tak sedikit masyarakat yang bergantung hidup dari tambang laut. (Edho)