Dari Ruang Kelas ke Ruang Publik” Refleksi Filosofis Guru Akuntansi dalam Memahami Praktik, Kebijakan, dan Nilai Administrasi Publik di Bumi Serumpun Sebalai

Karya Tulis55 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dewi Permanasari, S.E (Guru Akuntansi SMKN 1 Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka)

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada siswa di awal pelajaran: “Untuk apa kita belajar akuntansi?” Jawaban mereka beragam ada yang menyebut agar bisa bekerja, ada yang menjawab agar bisa membuka usaha.

Namun semakin lama saya menekuni profesi sebagai guru Akuntansi di SMKN 1 Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, semakin saya menyadari bahwa ada jawaban yang lebih dalam agar kita bisa memahami dan berkontribusi pada kehidupan publik yang jujur dan bertanggung jawab.

Refleksi inilah yang mendorong saya untuk merenungkan hubungan antara ilmu yang setiap hari saya ajarkan dengan ilmu administrasi publik sebuah ilmu yang sesungguhnya hadir dalam keseharian kita, jauh melampaui dinding-dinding kantor pemerintahan.

Menemukan Hakikat Administrasi Publik dalam Keseharian.

Filsafat ilmu mengajarkan bahwa pertanyaan ontologis adalah pertanyaan paling mendasar, apa hakikat sesuatu itu? Ketika pertanyaan ini diterapkan pada administrasi publik, jawabannya terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Administrasi publik, dalam hakikatnya, adalah ilmu dan seni mengelola urusan bersama demi kesejahteraan bersama. Ia hadir dalam setiap kebijakan yang mengatur jadwal belajar siswa, dalam setiap lembar pertanggungjawaban kegiatan sekolah, bahkan dalam setiap musyawarah warga di tingkat RT.

Sebagai guru di SMKN 1 Belinyu, sebuah sekolah negeri yang melayani putra-putri Bumi Serumpun Sebalai. saya menyadari bahwa seorang guru sejatinya adalah pelaku administrasi publik di lini terdepan.

Setiap kali saya menjalankan kurikulum nasional, melaporkan hasil belajar siswa, atau mengikuti rapat dinas, saya sedang berpartisipasi dalam sistem administrasi publik yang lebih besar.

Guru bukan sekadar pengajar, ia adalah ujung tombak kebijakan negara yang bertemu langsung dengan generasi penerus bangsa.
Belinyu, dengan segala keunikannya sebagai bagian dari Kepulauan Bangka, adalah tempat di mana realitas administrasi publik terasa nyata dan membumi.

Di sinilah saya belajar bahwa memahami administrasi publik bukan berarti menghafal teori, melainkan membaca kehidupan nyata dengan kacamata yang lebih luas.

Akuntansi sebagai Jendela Memahami Kebijakan Publik

Epistemologi bertanya: dari mana dan bagaimana kita memperoleh pengetahuan? Dalam konteks ini, latar belakang saya sebagai guru Akuntansi menjadi perspektif yang sangat khas.

Pengetahuan tentang kebijakan publik tidak selalu datang dari bangku kuliah atau seminar formal. Ia sering kali lahir dari pengalaman langsung bersentuhan dengan kebijakan itu sendiri. Ketika kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diterapkan, saya tidak hanya membaca regulasinya namun saya merasakannya secara langsung dalam proses perencanaan anggaran, pelaksanaan kegiatan, hingga pelaporan pertanggungjawaban.

Ilmu Akuntansi memberikan saya sebuah alat baca yang sangat berharga yaitu kemampuan memahami kebijakan publik melalui bahasa angka. Anggaran adalah cerminan kebijakan yang paling jujur.

Ia menunjukkan ke mana prioritas sebuah institusi diarahkan. Ketika saya mengajarkan analisis laporan keuangan kepada siswa, sesungguhnya saya sedang mengajarkan mereka cara membaca niat dan prioritas sebuah lembaga publik sebuah kecakapan yang sangat penting bagi warga negara yang cerdas.
Di sinilah saya melihat jembatan yang indah antara ilmu Akuntansi dan administrasi publik. Keduanya berbagi satu semangat yang sama bahwa setiap pengelolaan sumber daya baik di perusahaan maupun di pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada pihak yang berkepentingan. Mengajar Akuntansi di Belinyu adalah bagian kecil namun bermakna dari upaya membangun generasi yang melek tata kelola publik.

Transparansi, Akuntabilitas, dan Integritas sebagai Nilai Universal
Aksiologi bertanya: nilai apa yang baik dan patut diperjuangkan? Ini adalah pertanyaan yang paling saya rasakan kedalamannya sebagai seorang pendidik.
Ada tiga nilai yang menjadi benang merah antara ilmu Akuntansi dan administrasi publik yang baik.

Pertama, transparansi. Dalam Akuntansi, setiap transaksi harus dicatat dengan jelas dan dapat diverifikasi. Prinsip yang sama berlaku dalam administrasi publik. setiap keputusan dan penggunaan sumber daya publik semestinya dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat. Nilai transparansi ini bukan sekadar kewajiban teknis, ia adalah bentuk penghormatan kepada kepercayaan publik.

Kedua, akuntabilitas. Kata “akuntansi” dan “akuntabilitas” lahir dari akar yang sama yaitu account, yang berarti pertanggungjawaban. Dalam administrasi publik, akuntabilitas berarti setiap pihak yang diberi amanah untuk mengelola urusan publik bertanggung jawab sepenuhnya atas amanah tersebut. Menariknya, nilai ini pun sudah lama hidup dalam budaya Bumi Serumpun Sebalai, semangat serumpun mengandung makna bahwa setiap anggota komunitas memiliki tanggung jawab moral kepada komunitas secara keseluruhan.

Ketiga, integritas. Ini adalah nilai yang tidak bisa diaudit, tidak bisa diukur dengan angka, namun paling menentukan. Integritas lahir dari dalam diri dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini, salah satunya di ruang kelas. Ketika saya mengajarkan bahwa manipulasi data keuangan adalah tindakan yang merusak kepercayaan, saya sedang menanamkan benih integritas yang semoga kelak akan tumbuh dan berbuah dalam setiap peran yang diemban siswa-siswa saya di tengah masyarakat.

Guru sebagai Penyemai Nilai Administrasi Publik

Saya bukanlah seorang pemangku kebijakan. Saya tidak duduk di forum perumusan regulasi, tidak memimpin rapat koordinasi kementerian, tidak menyusun naskah akademik undang-undang. Saya hanyalah seorang guru Akuntansi di sebuah SMK negeri di Kecamatan Belinyu, sebuah peran yang sederhana namun, saya percaya, penuh makna.

Sebab dari ruang kelas inilah kelak lahir para pelaku administrasi publik masa depan, staf keuangan desa, pegawai pemerintah daerah, wirausahawan yang taat pajak, atau warga negara biasa yang paham hak dan tanggung jawabnya.

Setiap nilai yang saya tanamkan hari ini, transparansi, akuntabilitas, integritas adalah investasi jangka panjang bagi kualitas kehidupan publik di Bumi Serumpun Sebalai dan Indonesia pada umumnya.

Filsafat ilmu administrasi publik, bagi saya, bukan soal teori yang rumit. Ia adalah tentang bagaimana kita dari posisi apapun yang kita duduki berkontribusi pada terciptanya tata kehidupan bersama yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih bermartabat.
Dan itu, saya rasa, dimulai dari ruang kelas. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *