Puluhan Pos Pam Kepung Perairan Pulau Padi, Nelayan Berharap Tindakan Aparat

Bangka375 Dilihat
banner 468x60

BANGKA — Puluhan pos penimbangan timah atau yang kerap disebut pos pam, nampak sudah mengepung di perairan pulau padi, Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu.

Puluhan pos pam itu, dikabarkan menampung timah dari para penambang yang mencari timah di perairan itu. Puluhan pos pam itu terdiri dari sejumlah kubu tertentu. Bahkan imbas kepada para warga yang kerap melaut juga kena. Seperti jaring nelayan yang kerap rusak ditabrak oleh speed penambang.

Menurut salah satu dari panitia di salah satu pos pam mengatakan, pekan lalu terjadi pertemuan di pulau dante. Panita yang meminta namanya untuk tidak disebutkan itu mengatakan, hampir seluruh pos pam itu sudah memberikan kontrubusi berupa uang dan berbentuk timah kepada salah satu warga.

” Waktu pertemuan di dante, semua pemilik pos pam dan panitia setiap pos pam itu hadir. Dan semua disitu ngomong, sudah nyetor berupa duit atau timah kepada Dam dan Dika. Mereka katanya, yang nerima itu dan katanya untuk kompensasi masyarakat,” ungkap salah satu panitia itu, Selasa (25/07) pagi.

At, salah satu warga yang kerap pergi ke laut mengatakan, puluhan pos pam itu sudah bekerja menambang timah sejak sebulan belakang.

” Kalau kemarin saya lewat mau ke Bakit, dari perimping biasa saya pergi. Lewat pulau padi, ada 10 kurang lebih pos pam nya,” kata At, kepada wartawan, Selasa (25/07) pagi.

At mengatakan, dia kerap mendengarkan informasi adanya keributan sesama penambang dan kubu yang memiliki pos pam.

Sementara Eko, salah satu nelayan asal Mengkubung saat dihubungi mengaku, jaring ikan milik mereka juga kerap rusak ditabrak speed penambang.

” Banyak rusak jaring kami ditabrak penambang. Nggak usah ditanya lagi,” kata Eko.

Dikatakan Eko, perairan pulau padi hingga Mengkubung merupakan wilayah tangkap mereka. Eko pun saat dikonfirmasi menyebutkan, oknum yang menerima kontribusi itu sama sekali tidak ada komunikasi dengan kelompoknya sebagai nelayan.

” Kemarin ada dengan katanya ada yang ribut. Orang-orang yang ngurus atau berkecimpung disitu ada Dam, Dika dan ada warga Bukit Tulang Juga. Mana ada mereka ketemuan dengan kami, nggak ada,” bebernya.

Eko juga berharap, aparat penegak hukum dapat melakukan langkah tegas bahkan penindakan dalam hal ini. Karena kata Eko wilayah yang ditambang merupakan wilayah tangkap mereka. Bahkan Eko meminta, aparat bertindak tegas terhadap oknum-oknum yang membawa penambang bekerja di wilayah tangkap mereka.

Sementara Dam, saat dikonfirmasi mengaku dirinya menerima kontribusi yang diserahkan penambang. Namun kata Dam, kontribusi yang dikumpulkan dari para penambang diserahkan kepada warga Dusun Pudak dan sekitarnya.

” Kalau ngambil kontribusi ada, dan itu kami serahkan ke warga. Tapi kalau ngizin orang bekerja nggak ada. Siapa kita kalau mau minta izin. Disitu juga banyak yang bekerja, jadi apa salahnya kalau wilayah kita, kita ikut kerja juga,” ungkapnya.

Terpisah, Direktur Polairud Polda Kepulauan Bangka Belitung melalui Kasubdit Gakkum AKBP Indra Feri Delimunthe saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sedang mendalami lokasi penambangan yang ada di pulau padi.

” Sedang kami selidiki,” ujarnya. (Edho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *