Penyanting Timah Ngeluh : Baru Sehari TI Batu Hitam Jalan, Lah Bubar

Bangka1018 Dilihat
banner 468x60

BANGKA — Sekelompok orang yang biasanya memungut pasir timah di tambang laut atau istilahnya Nyanting atau juga ngereman, nampak lesu. Pasalnya, biasanya mereka bisa membawa hasil timah 2 sampai 3 kilogram kali ini bernasib kurang beruntung.

Hal itu disebabkan, karena berhentinya kegiatan penambangan yang ada di lokasi seksi saat ini adalah perairan Batu Hitam dan sekitarnya.

Sebagian besar mereka yang berprofesi sebagai penyanting adalah warga Kecamatan Belinyu. Mereka terdiri dari Ibu-Ibu bahkan berstatus single parent baik yang muda atau setengah tua. Ada juga kaum laki-laki.

Lili, perempuan 50 tahun warga Kecamatan Belinyu mengaku sudah sepekan ini tidak turun ke laut lantaran tambang laut di perairan batu hitam dan sekitarnya sudah tidak beroperasi lagi.

” Udah seminggu nggak ke laut. Makan sisa-sisa hidup saja sekarang nih. Mau ke laut, TI nggak jalan. Senin anak udah sekolah, musti mikir lagi ini,” kata Lili, saat berjumpa di pasar baru Belinyu, Kamis (04/01) pagi.

Kondisi perairan batu hitam, Desa Riding Panjang Kecamatan Belinyu, bersih dari kegiatan tambang laut. Nampak batu yang berwarna hitam. Foto : Ist

Rin, salah seorang pria usia 40 tahun warga Belinyu yang kerap pergi ke laut untuk nyanting, mengaku sempat pergi ke laut pada akhir tahun kemarin. Namun sayangnya, baru sehari saja mencicipi hasil dari ngereman itu, tambang laut di perairan itu sudah berhenti.

” Hedehh, hedeehh. Baru lah sehari pergi nyanting, TI lah bubar di batu hitam. Padahal nyambung hidup,” kata Ri.

Rin mengaku, sebelumnya kerap pergi ke laut untuk ngereman bersama teman-temannya. Mereka menumpang perahu milik salah seorang warga Belinyu yang kerap mengantar mereka ke lokasi dimana mereka mengharapkan pemberian sedikit demi sedikit pasir timah dari ratusan penambang yang ada di perairan teluk kelabat dalam.

Nampak seorang wanita bersama anak kecil yang memungut pasir timah hasil penambangan di atas ponton. Realita inilah yang disebut Ngereman atau Nyanting. Foto diambil dari salah satu media siber.

Perairan batu hitam dan sekitarnya, memang kerap diberitakan di sejumlah media siber. Bahkan, tak ada habisnya juga.

Bak seperti gemerlap lampu, kegiatan tambang di perairan itu berjalan seperti lampu yang berkedip. Berjalan sesaat dan bubar ketika adanya kabar yang beredar.

Aparat keamanan setempat pun nampak sudah seperti setrika yang mondar mandir untuk mengontrol perairan itu. Peran pemerintah bisa saja diperlukan dalam penyikapan ini.

Penolakan sejumlah nelayan, yang menjerit karena kegiatan penambangan itu juga kerap terjadi. Ratusan penambang juga bergantung hidup dari tambang itu.

Uang kompensasi sudah digelontorkan hingga mungkin bernilai Milyaran Rupiah kepada warga yang terdampak dari sejumlah koordinator tambang pun sudah dilakukan. Namun, pro kontra itu selalu ada. (Edho)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *